Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sunday, January 5, 2014

Korbankan “ismail”-mu!!!

Bismillahirrahmanirrahim

Secara fitrah, manusia dikaruniai oleh Allah I kecintaan pada ibu, bapak, anak dan istri. Dengan naluri itu, manusia akan terdorong untuk mencari pasangan dan melahirkan keturunan. Begitu pula Nabiyullah Ibrahim as. Beliau juga menginginkan kehadiran seorang anak. Meski usianya kian senja, Nabi Ibrahim as terus berdoa memohon diberikan anak yang shalih.

Bagi Ibrahim as, Ismail adalah buah hati, harapan dan kecintaannya, yang telah sangat lama didambakan. Ismail mendatangkan kebahagiaan dalam hidup Ibrahim as. Ismail pun merasakan penuhnya kasih sayang dan cinta ayahnya. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah I kepada Ibrahim as untuk menyembelih putera kesayangannya itu.

Ibrahim as menghadapi dua pilihan: mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail atau menaati perintah Allah I dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya. Mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah I atau lebih mengutamakan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta, dan dunia. Tetap menyadari anak yang dicintainya itu sebagai karunia Allah I atau malah menjadikannya sebagai tandingan, pesaing–pesaing Allah I yang dicintai sama atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allah I.

Sekarang, bayangkan ada sesuatu yang kita cintai, yang deminya kita rela mengorbankan apa saja. Itulah “Ismail”-mu. “Ismail”-mu adalah setiap sesuatu yang dapat melemahkan imanmu dan dapat menghalangi dirimu menuju taat kepada Allah I. Setiap sesuatu yang dapat membuat dirimu tidak mendengarkan perintah Allah I dan menyatakan kebenaran. “Ismail”-mu adalah setiap sesuatu yang menghalangimu untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanmu. Setiap sesuatu yang menyebabkan engkau mengajukan alasan-alasan untuk menghindar dari perintah Allah I.

Didalam hidup ini kita harus menemukan apa atau siapakah “Ismail” kita itu. Mungkin sekali “Ismail”-mu adalah seorang manusia; bisa anak, istri, suami, orang tua atau siapa saja. Bisa pula harta benda, pangkat, jabatan atau kedudukan. Bisa juga “Ismail”-mu berupa kebiasaan yang mendatangkan kemurkaan Allah I, sehingga kita tidak bisa lepas dari hal-hal tersebut karena sudah menyatu dalam kehidupan nyata.

“Ismail”-nya Ibrahim as adalah Ismail as, anaknya sendiri, buah hatinya. Dan saat Ibrahim dihadapkan pilihan sulit itu, setan dengan cepat memanfaatkan kesempatan, berusaha menggoda Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, dan Ismail as agar mengabaikan perintah Allah I itu.

Lalu siapakah “Ismail” kita?. Mungkin, yang mengetahuinya adalah kita sendiri. Maka korbankan “Ismail”-mu!


“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Ali-Imran [3]: 31). 

[fachreza].

Istiqomah Bukan perkara mudah

Bismillahirrahmaanirrahiim

Benar, istiqomah memang bukan perkata mudah, perkara ini hanya mudah di kata namun sungguh Ia sukar di kerja. Tak jarang diantara manusia yang awalnya konsekwen dengan agamanya, akhirnya berbelok dan berbalik arah kejalan yang salah. Awalnya Ia terlihat tsiqoh, kemudian Ia beralih dan berubah. Keimanan yang dulunya kokoh mulai luntur dan hancur.

Sering kita dapati kisah-kisah tragis tergelincirnya anak manusia dari jalan yang benar, dahulu Ia dikenal ahli ibadah yang berbakti pada kedua orangtua, di kemudian hari kita mendengar berita tentangnya, bahwa Ia telah menjadi gebong narkoba dan menjadi anak yang durhaka, dahulunya Ia anak pesantren, namun sekarang telah menjadi anak punk yang mengaku-ngaku keren. Dulunya Ia anak kyai yang begitu alim, kini Ia menjadi pelaku maksiat dan sering berbuat dzolim. Laa haula wa quwwata illa billah. Hanya Allah lah yang mampu membolak balikan hati.

Demikianlah Allah membolak-balikkan hati manusia, yang seharusnya kita selaku umat manusia tidak pernah merasa aman dari berbolak baliknya hati kita, bisikan syetan yang selalu menghantui, fitnah syahwat dan fitnah syubhat yang semakin hari semakin menjadi, menjadi musuh yang nyata yang senantiasa mengintai kita setiap hari. Ketika hati kita lengah dan lalai dengan mudah musuh akan masuk dan menghancurkan benteng keimanan hati.

Sedikit tapi pasti, cara syetan menggoda dan merusak keimanan hingga akhirnya kita tergelincir kelembah penuh nista. Maka Rasulullah salallahu ‘alahi wa sallam kemudian mengajarkan kepada kita agar senantiasa berlindung dan berdoa disetiap harinya, supaya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keistiqomahan kepada kita, memberikan keteguhan hati dan iman kita.

Rasulullah salalllahu ‘alahi wa sallam bersabda : “Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami untuk senantiasa berada  di atas dien-Mu. Wahai Dzat Yang Maha memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Mu.”

Rasul yang maksum, yang dijaga oleh Allah ta’ala dari berbuat kesalahan, senantiasa takut dan berdoa kepada Allah agar diberi ke istiqomahan dan keteguhan hati, maka menjadi layak bagi kita yang bukan Rasul dan bukan pula nabi untuk bisa melaziminya dalam kehidupan sehari-hari.

Mari kita lazimi, memohon dan menjaga diri, agar Allah tetap memberikan kita petunjuk jalan yang lurus dan senantiasa memberikan kekuatan hati dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Rabbul Izzati.

Istiqomah bukanlah perkara yang mudah, tapi istiqomah adalah jalan menuju jannah.

  

Friday, January 3, 2014

Bersegeralah... !!! sebelum terlambat

Bismillah. . . 

Masa lalu adalah masa yang telah using, masa yang tak akan pernah kembali lagi, masa yang hanya bisa dijadikan kenangan dan bahan intropeksi. Jika masa lalu kita adalah masa-masa yang indah, maka begitu menyenangkan jika dibayangkan, namun jika masa lalu itu suram, sedih terasa jika terpaksa ada ingatan yang menghantarkan kita untuk mengingatnya.

Sedangkan masa yang akan datatang adalah masa yang belum pernah kita rasakan, masa yang penuh dengan teka-teki kehidupan, masa yang diliputi kejadian-kejadian yang tidak pernah kita pikirkan. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana untuk masa yang belum kita hadapi, tentang agenda apa yang terus terjadi, itu semua adalah rahasia Ilahi. Wallahu ta’ala a’lam ‘an dzalik..

Namun perlu kita ketahui, diantara dua masa itu, ada satu masa yang tengah kita hadapi, masa dimana menentukan masa yang akan dating ataupun menjadi kenangan manis di masa yang akan silam. Masa sekarang, yaa.. masa yang saat ini kita rasakan.

Banyak dari anak adam yang sibuk membayangkan masa lalu, namun lalai dengan masa yang saat ini sedang dihadapi. Banyak anak adam yang sibuk merancang masa depan namun Ia lupa dengan apa yang  seharusnya Ia lakukan. Padahal yang kita hadapi adalah masa sekarang, sebuah masa yang terjepit diantara dua masa, masa yang seharusnya kita jadikan menjadi masa yang terbaik bagi kita.

Banyak orang yang menunda taubat karena Ia merasa telah banyak amal sholih yang  diperbuat, banyak pula yang akhirnya mengakhirkannya karena menganggap bahwa esok masih ada masa tua. Padahal tak satu pun diantara manusia, dan tak satupun ada selain Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu apa yang akan terjadi pada setiap diri makhluk di bumi.

Banyak orang yang terkenal dengan kesholihannya, namun akhir hayatnya mati di pelukan seorang wanita pezina. Adapula yang berangan-angan akan taubat di masa tua namun apa daya Allah hanya member umur pendek baginya.

Akankah kita menyesal hanya karena kita tidak menggunakan kesempatan yang ada di depan mata? Akankah kita menjadikan masa lalu kita penuh dengan dosa dan sebelum kita mati Allah telah mengirim malaikat untuk mencabut nyawa kita?? Merugilah bagi siapa saja yang menunda taubat dari maksiat yang telah di kerja.

Mari segera bertaubat, ukir sejarah amal kita dengan hiasan amal kebaikan. Jangan sampai kita menjadi hamba yang merugi di akherat nanti. Allah telah memberi janji :

“kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Furqon : 70)

Wednesday, January 1, 2014

Kebaikan Adalah Kebiasaan

Bismillahirrahmanirrahim


Memang, masa anak-anak bukanlah masa pembebanan atau pemberian kewajiban yang harus mereka kerjakan. Ia adalah masa persiapan, latihan dan pembisaan untuk menyambut masa pembebanan (taklif) ketika ia telah baligh nanti. Dengan begitu, kelak, pelaksanaan kewajiban akan terasa mudah dan ringan, disamping juga sudah mempunyai kesiapan yang matang untuk menyelami kehidupan dengan penuh keyakinan dan keta’atan.

Bagi mereka yang belum baligh, melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah I bukanlah suatu hal yang tidak dihitung dalam syari’at. Ibnu abdil barr dalam kitab “at-tamhid” meriwayatkan dengan sanadnya bahwa umar bin khattab berkata, “amalah-amalah baik anak kecil itu tetap dicatat, sedangan amalah buruknya tidak dicatat”. Maknanya, selagi amalan baik dicatat, motivasilah anak-anak untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin. Karena setelah ia baligh dan telah dibebankan syari’at baginya, apabila melakukan kesalahan ia dicatat sebagai amal buruk. Tapi, karena sejak dini dia telah mencatatkan amal baik yang melimpah, diharapkan amal buruknya nanti dapat tertutup oleh amal baiknya.

Orang tua, tentu tidak bisa hanya mengandalkan kesadaran anak tentang beramal baik setelah anak sekolah, sekalipun lembaga pendidikan islam. Orang tua tidak hanya memasrahkan pendidikan pada para ustadz dan ustadzah. Karena, pendidik utama yang menanamkan karakter dasar dan akan bertanggung jawab kelah dihadapan-Nya adalah orang tua.

Bagi para orang tua, ada seuntai kata hikmah yang harus diingat, “bergegaslah mendidik anak-anak kalian sebelum kesibukan bertumpuk-tumpuk. Jika anak-anak telah dewasa namun tidak berakal, mereka akan lebih memusingkan pikiran”.


Ibnu mas’ud pun telah berpesan, “al khairatu ‘aadaatun” (kebaikan adalah kebiasaan). Maka, bila orang tua menginginkan putra putrinya mudah menjalankan kebaikan yang allah ta’ala wajibkan, mereka harus berupaya membiasakan kebaikan itu sejak kecil. Ketika anak anak sudah mampu mencerna kata-kata. Semakin dini semakin baik. Fastabiqul khairaat. Wallahu ‘alam bisshawwab.

[Fakhreza]